PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jenis makanan yang dikonsumsi manusia akan menentukan kesehatan manusia, kalimat ini mencerminkan bahwa manusia harus senantiasa memilih makanan yang dikonsumsinya. Jenis makanan yang dikonsumsi manusia pada garis besarnya dibagi menjadi dua yaitu ; makanan jenis nabati dan makanan jenis hewani. Melihat dari kedua sumber tersebut maka makanan jenis hewani yang perlu mendapat perhatian khusus terutama daging sapi yang menjadi makanan favorit manusia pada umumnya.
Tetapi saat ini masih bayak peternak-peternak sapi di indonesia yang belum mengetahui bagaimana cara memelihara dan menternakan sapi yang baik seperti struktur kandangnya yang tidak sehat, memberi pakan yang tidak sesuai takaran, menggembalakan sapi di area sumber penyakit, dan sistem sanitasi yang tidak sesuai.
Hal tersebut menyebabkan penyakit dalam tubuh sapi yang alkan sangat berbahaya apabila daging sapi yang terinfeksi penyakit dikonsumsi oleh manusia karena dapat menimbulkan penyakit yang tidak biasa bagi manusia dan kemungkinan terburuknya dapat menyebabkan kematian.
Berkaitan dengan hal tersebut melalui makalah ini kami mencoba utuk nyuguhkan bacaan yang berkaitan dengan peternakan sapi yang sehat. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu para peternak sapi yang sahat sehingga layak dikonsumsi oleh manusia dan dapat memberikan pengetahuan baru bagi para pembaca.
1.2. Rumusan Masalah
Perkembangan peternakan sapi dan daging sapi dewasa ini makin berkambang, sejalan dengan kebutuhan manusia memenuhi akan gizi hidupnya. Kurangnya penanganan yang baik dari para peternak sapi menyebabkan banyaknya sapi yang tidak sehat dan tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia.
1.3. Tujuan
• Membantu para peternak sapi untuk menternakan sapi dengan baik
• Memberi informasi tentang beternak sapi yang baik
II.PEMBAHASAN
2.1. Memilih Jenis Sapi
Sapi-sapi lokal yang terdapat di Indonesia kesemuanya dapat digunakan untuk usaha penggemukan. Akan tetapi tidaklah semua jenis sapi itu mempunyai prospek yang sama untuk digemukkan. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan jenis sapi yang lebih prospektif untuk digemukkan. Jenis-jenis sapi potong yang biasa dipelihara adalah : sapi Bali, sapi Madura, sapi Ongole, sapi Peranakan ongole, sapi Charolois, sapi Hereford, sapi Brangus dan lain-lain.
2.2. Konstruksi dan Letak Kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering. Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar. Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. Air minum diberikan secara adlibitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh kehabisan setiap saat. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang. Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m. 3) Perlengkapan Kandang Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai. Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.
2.3. Makanan
Sapi-sapi pada umunya diberi makan rumput, daun-daunan atau jerami. Umumnnya secara kualitas maupun kuantitas makanan sapi-sapi itu cukup baik. Ini dapat dilihat dari keadaan sapi-sapinya yang cukup segar, gemuk dan kesehatan baik. Bila dipandang perlu peternak menyediakan makanan untuk musim kemarau. Biasanya petani menyimpan jerami’
Pakan untuk sapi potong dapat dikelompokkan menjadi :
a. Hijauan
Hijauan yang berkualitas baik (rumput unggul atau campuran rumput dengan hijauan kacang-kacangan) umumnya sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertunbuhan dan reproduksi yang normal sehingga pada pemeliharaan sapi dianjurkan lebih banyak menggunakan hijauan (85-100%), apabila hijauan banyak tersedia, pemberian konsentrat hanya dianjurkan untuk keadaan tertentu saja seperti saat sulit hijauan (di musim kemarau) atau untuk penggemukkan. Contoh hijauan unggul : Rumput setaria, Rumput gajah (Pennisetum purpureum), Rumput raja (Kinggrass), Rumput benggala (Panicum maximum), Rumput bede (Brachiaria decumbens), Lamtorogun(Leucaena leucocepala) , Turi (Sesbania grandiflora), Gamal (Gliricidia maculata), dan Kaliandra Contoh hijauan limbah pertanian : Jerami kacang panjang , Jerami kedelai , Jerami padi dan Jerami jagung
b. Konsentrat contoh konsentrat :
Dedak padi, Onggok (ampas singkong), ampas tahu
2.4. Cara Pemberian Pakan
a. Pemberian dapat dilakukan 2 -3 kali sehari (pagi, siang, sore).
b. Air minum harus tersedia dan diganti setiap hari.
c. Pemeberian konsentrat dapat dilakukan secara kering ataupun basah (komboran).
d. Pada usaha sapi penggemukan (fattening),
• pemberian pakan adalah: 2,5% - 3% berat badan (BK basis).
• Imbangan rumput : konsentrat = 20% : 80% atau 30% : 70%.
e. Pada tahap adaptasi pakan sapi (penggemukan), konsentrat diberikan secara bertahap :
• 3 hari pertama : 20% konsentrat : 80% hijauan
• Hari ke-4 hingga ke-7 : 40% konsentrat : 60% hijauan
• Hari ke 8 hingga 14 : 60% konsentrat : 40% hijauan
• Setelah hari ke-14 : 80% konsentrat : 20% hijauan
f. Pemberian rumput : kalau masih basah sebaiknya diangi-anginkan dahulu, dipotong-potong kurang lebih 10 cm, pemebrian rumput setelah konsentrat.
2.5. Keadaan sapi
Kesehatan ternak dipengaruhi oleh pemeliharaan dan pemberian pakan. Kurangnya perhatian terhadap hal ini akan menimbulkan penyakit pada ternak yang dapat merugikan dalam usaha ternak. Oleh karena itu usaha pencegahan dan pengendalian penyakit sangat diperlukan agar sapi yang dipelihara tetap sehat. Tanda-tanda sapi sehat adalah sebagai berikut :
• Nafsu makan besar dan agak rakus.
• Minum teratur (kurang lebih 8 kali sehari).
• Mata merah , jernih dan tajam, hidung bersih, memamah biak bila istirahat.
• Kotoran normal dan tidak berubah dari hari ke hari.
• Telinga sering digerakkan, kaki kuat, mulut basah.
• Temperature tubuh normal (38,5 – 39º) dan lincah.
• Jarak/siklus berahi ternak teratur.
Tanda-tanda sapi sakit, antara lain adalah :
• Mata suram, cekung, mengantuk, telinga terkulai.
• Nafsu makan berkurang, minumnya sedikit dan lambat.
• Kotoran sedikit, mungkin diare atau kering dank eras.
• Badan panas, detak jantung dan pernapasan tidak normal.
• Badan menyusut, berjalan sempoyongan.
• Kulit tidak elastic, bulu kusut, mulut dan hidung kering.
• Temperature tubuh naik turun.
Beberapa tindakan pencegahan yang umumnya dilakukan adalah pemberian obat cacing. Penyakit cacing tidak membahayakan, namun kerugian yang ditimbulkan cukup besar, karena meskipun ternak diberi pakan dengan kualitas yang baik, pertumbuhannya terlambat. Pada beberapa daerah basah, rumput yang tumbuh biasanya telah tercemar oleh telur-telur atau bibit-bibit cacing. Berbagai obat cacing yang biasanya diberikan adalah rental boli, valbazen, dan lain sebagainya. Vaksinasi juga sering dilakukan oleh Dinas Peternakan setempat, jika ada wabah penyakit yang berbahaya, misalnya penyakit mulut dan kuku (PMK), brucellosis (kluron menular), surra, septicemia epizpptical/SE (ngorok), antraks (radang limpa) dan turberkulosis (TBC).
2.6. Penyakit pada Sapi
Beberapa penyakit yang sering dijumpai dalam usaha pemeliharaan sapi potong adalah sebagai berikut.
A. Keracunan Asam Lambung (Acidosis)
Keracunan asam lambung disebabkan karena dalam waktu singkatternak terlalu banyak makan konsentrat yang mengandung karbohidrat atau gula. Keracunan asam lambung akut kadang-kadang tidak terlihat, namun tanda-tanda yang dikenali adalah : menendang-nendang perut, menggesek-gesek gigi, liur yang berlebihan, sapi terlihat sangat menderita, tidak nyaman dan sering menggosok-gosokkan kepala. Keracunan yang akut dapat menyebabkan kematian yang mendadak, sempoyongan/mabuk, jatuh dan mati. Pengobatan dengan pemberian 110 g natrium bikarbonat (NaHCO3 ) pada awal pengobatan, kemudian diulang setiap 8 jam dengan dosis 60 g. pencegahan adalah : pemberian konsentrat jangan terlalu banyak.
B. Kembung Perut (Bloat)
Kembung perut adalah keadaan rumen yang membesar akibat penimbunan gas yang tidak dapat cepat keluar, sehingga rumen tidak berfungsi normal. Tanda-tandanya adalah lambung sebelah kiri membesar/bengkak dan kencang, jika dipukul berbunyi. Pada kasus yang berat, sapi sering kencing dan buang kotoran, pernapasan berat dan sapi menderita. Penyakit ini disebabkan karena api merumput pada padang penggembalaan yang masih basah oleh embun pagi atau karena pakan yang diberikan terlalu halus dan kurang diberi hijauan. Terlalu banyak makan hijauan jenis leguminosa (kacang-kacangan) juga dapat menyebabkan kembung perut. Pengobatan diberi minum 110 g minyak nabati, minyak paraffin atau diberi obat anti bloat. Kalau sudah parah, dilakukan pemasuka selang/pipa ke dalam mulut atau penusukan dengan trokar/kanula pada perut sebelah kiri (bagian belakang rusuk yang terakhir). Pencegahan diberi tambahan hijauan sampai 15 % dari bahan kering pakan, konsentrat jangan terlalu halus dan diberi hijauan dicacah agak kasar.
C. Panas Badan Tinggi (Demam)
Penyakit demam terjadi apabila suhu badan sapi naik, karena kurang tempat teduh, ventilasi kurang, populasi sapi terlalu padat, terlalu kepanasan di bawah terik matahari, terutama sapi-sapi yang kondisinya gemuk. Tanda-tanda sakit adalah : sapi mengeluarkan air liur dan napasnya pendek, terengah-engah dengan detak jantung yang tinggi, suhu badan tinggi mencapai 41ºC dan pernapasan menjadi sesak, dan terkesan menderita. Pelakuan yang diberikan biasanya dipindahkan ke tempat yang teduh, perlu penyemprotan dengan air mulai dari kaki dan pelan-pelan ke badan bagian atas sampai akhirnya membasahi punggung atau dengan menggunakan karung basah. Pencegahan dilakukan dengan pemberian ventilasi kandang yang baik dan jumlah sapi dalam kandang jangan terlalu padat.
D. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit akut dan sangat menular pada sapi, kerbau, babi, kambing, domba dan hewan berkuku genap lainya, yang disebabkan oleh virus yang sangat kecil. Gejala ditandai dengan pembetukan lepuh dan kemudian erosi pada selaput lender mulut, di antara kuku, kaki dan putting susu. Wabah penyakit ini kadang-kadang terjadi akibat pemasukan hewan dari daerah lain. Penyakit ini mempunyai penularan tinggi, tetapi kematiannya rendah. Kerugian bukan disebabkan oleh kematian, tetapi karena susutnya berat badan, turunnya produksi susu, kehilangan tenaga kerja, pertumbuhan lambat. Tidakan pencegahan adalah adalah mentaati peraturan tranportasi hewan antardaerah. Mengikuti vaksinasi PMK yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Setempat.
E. Brucellosis (Kluron Menular)
Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang terutama menyerang sapi, kambing, domba, babi, berbagai jenis hewan lainnya serta manusia. Pada babi, penyakit ini dikenal sebagai penyakit kluron menular atau penyakit Bang. Penyebab penyakit ini adalah micrococcus melitensis. Pada ternak, kerugiannya gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemajiran temporer atau permanen. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia dan sulit diobati, sehingga brucellosis merupakan penyakit zoonosis. Tindakan pencegahan adalah mentaati peraturan tranportasi hewan antardaerah. Mengikuti vaksinasi brucellosis yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Setempat.
F. Penyakit Surra
Penyakit surra merupakan penyakit menular pada hewan, yang dapat bersifat akut maupun kronis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa dengan nama Trypanosoma evansi. Pada mulanya penyakit ini ditemukan pada kuda, tetapi kemudian hamper semua hewan berdarah panas peka terhadap penyakit ini, msekipun derajat kepekaanya tidak sama. Gejala penyakit ini adalah : suhu badan naik, demam berselang-seling, mika pucat, nafsu makan berkurang, turunnya berat badan yang drastic, keguguran, gangguan pertumbuhan, penurunan produksi susu, di bawah dagu dan kaki bengkak, tidak dapat dikerjakan secara penuh dan dapat menimbulkan kematian. Tindakan pencegahan adalah mentaati peraturan tranportasi hewan antardaerah. Mengikuti vaksinasi surra yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Setempat.
G. Septicemia Epizootica (SE)
Penyakit ngorok atau septicemia epizootica (SE) adalah penyakit menular terutama pada sapi, kerbau, babi, dan kadang-kadang pada domba, kambing dan kuda, yang disebabkan oleh kuman Pasteurella multocida. Penyakit ini berjalan secara akut, angka kematian tinggi. Gejala penyakit adalah ngorok (mendengkur), disamping adanya pembengkakkan busung pada daerah submandibula dan leher bagian bawah. Penyakit SE menyebabkan kematian, penurunan berat badan, serta kehilangan tenaga kerja. Tindakan pencegahan adalah mentaati peraturan tranportasi hewan antardaerah. Mengikuti vaksinasi SE yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Setempat.
H. Antraks (Radang Limpa)
Antraks adalah penyakit menular yang biasanya bersifat akut pada ternak ruminansia, kuda, babi dan sebagainya, yang disebabkan oleh Baicillus anthracis. Gejala penyakit adalah suhu badan sangat tinggi, nafsu makan hilang sama sekali, pada awalnya sulit buat kotoran, kemudian diare, kotoran bercampur air dan darah. Terjadi pembengkakan akut pada limpa dan kadang-kadang keluar darah dari mulut, lubang hidung dan vulva. Anthraks merupakan salah satu penyakit yang dapat menular ke manusia atau sebaliknya. Tidakan pencegahan adalah mentaati peraturan tranportasi hewan antardaerah. Mengikuti vaksinasi antraks yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Setempat.
I. Turberkulosis (TBC)
Penyakit tuberculosis yang lazim disebut TBC adalah penyakit menular bersifat menahun, merupakan salah satu penyakit zoonosis penting yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kejadian penyakit TBC pada ternak di Indnesia tidak begitu menonjol, dibandingkan dengan kejadian penyakit menular lainnya. Kerugian TBC pada ternak dapat berupa penurunan produksi air susu, kehilangan berat badan dan pengaktifan bagian-bagian daging yang terserang. Tidakan pencegahan adalah mentaati peraturan tranportasi hewan antardaerah. Mengikuti vaksinasi antraks yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Setempat.
J. Cacing Hati
Penyakit cacing hati disebabkan oleh cacing hati (Fasciola hepatica) dan menyerang ternak sapi pada berbagai umur. Cacing hati bentuknya segi tiga, pipih, berwarna abu-abu kehijauan sampae kecoklatan. Panjangnya bisa mencapai 2-3 cm. penularannya melalui pakan dan air, khususnya melalui pakan hijauan yang telah dicemari larva. Cacing ini menyebabkan penderitaan yang kronis, menahun, kurang darah dan gizi, pertumbuhan lambat, radang hati dan empedu. Gejala yang terjadi : ternak menjadi kurusm, lesu dan pucat, berat badan menurun, kadang-kadang terjadi busung pada berbagai bagian tubuhnya. Pencegahan penyakit adalah dengan membasmi siput atau bekicot, karena sebagai hospes perantara dari perkembangan cacing hati. Pencegahan yang lain, dengan menghindari pakan hijauan yang tercemar oleh larva cacing hati. Pengobatan dengan obat cacing, misalnya Hexachlorophene.
III. KESIMPULAN dan SARAN
3.1. Kesimpulan
Untuk mendapatkan sapi dan produk sapi yang sehat dapat dilakukan dengan mengetahui bagaimana tata cara pembuatan kandang, mengetahui pakan yang baik dan waktu yang baik dalam pemberian pakan, dapat melihat ciri-ciri sapi yang sehat ataupun sapi yang sedang sakit, pemberian obat dan vitamin agar sapi terhindar dari berbagai penyakit dan mengetahui ciri-ciri penyakit yang sedang diderita sapi.
3.2. Saran
Peternak sebaiknya dapat membedakan sapi yang sehat dan sapi yang sedang sakit, agar para konsumen aman dalam mengkonumsi daging sapi.
IV.DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2008.Peternakan sapi yang baik [terhubung berkala] http://www.nguntoronadi.wonogiri.org/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=2&infoid=5 (19 Desember 2009)
Anonim.2009.Penyakit sapi [terhubung berkala] http://budidayaternak.comxa.com/single.php?conten=Halaman-Kategori-Budidaya&idbudidaya=4&halaman=3(19 Desember 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar